Minggu, 24 April 2011

prosedur penyusunan program pembelajaran individual


Program pembelajaran individual disusun dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan  setiap siswa. Prosedur  yang ideal untuk mengembangkan  program pembelajaran individual dikemukakan Kitano and Kirbly (1986) memiliki lima aspek yaitu pembentukan tim PPI, menilai kebutuhan khusus anak, mengembangkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek, merancang metode dan prosedur pembelajaran dan menentukan evaluasi kemajuan anak. Masing-masing aspek akan dijelaskan sebagi berikut :
1.      Pembentukan Tim PPI
Langkah awal dalam penyusunan program pembelajaran individual adalah membentuk suatu tim yang disebut dengan tim PPI.  Tim PPI inilah kelak mempunyai tugas dan merancang dan menyusun suatu program pembelajaran . anggota tim perancang PPI, idealnya bersifat multi-disiplin dan terdiri dari orang-orang yang bekerja dan memiliki informasi untuk dapat dikembangkan lebih lanjutdidalam menyusun rancangan program secara komprehensif.  Secara umum anggota yang dimaksud dalam tim PPI adalah guru PLB, kepala sekolah, guru umum, orang tua, dan specialis lain (seperti : konselor, speech terapist, pediatris, dan psikolog). Dicantumkannya Guru reguler karena pada awal IEP diperuntukkan di sekolah reguler yang didalamnya terdapat anak luar biasa.
Untuk kondisis Indonesia tuntutan pembentukan tim seperti yang digambarkan akan mengalami kesulitan bahkan mungkin menjadai hambatan proses pelaksanaan pembelajaran individual. Untuk menghindari  hal seperti itu maka pembentukkan tim PPI yang dimaksud dalam buku ini anggotanya terdiri dari para guru bersama kepala sekolah  dan orang tua siswa  yang memiliki  komitmen terhadap pendidikan anak tuna grahita, pembentukkan tim yang terdiri dari para guru, kepala sekolah, dan orangtua tidak dapat mengurangi  makna penyusunan program, karena sesungguhnya merekalah yang sangat memahami seluk-beluk keberadaan anak tunagrahita.
Dalam proses pembentukkan tim PPI , kepala sekolah  merupaka ujung tombak . dalam tim itu, kepala sekolah memiliki posisi sebagai koordinator dan konsultan bagi para guru dan orangtua didalam mengemukakan pendapat dan temuannya.  Kepala sekolah, guru, dan orang tua duduk bersama untuk merembukkan dan mencari kesepakatan-kesepakatan serta solusi  atas program yang akan dan atau telah dirancang oleh guru.  Penelituan penulis (tentang study kasus mengenai penerapan PPI di SLB – C ), membuktikan bahwa pembentukkan PPI seperti  itu dapat dilakukan oleh guru , dan mereka nampak menunjukkan kemampuan untuk melakukan tugasnya dengan baik.  Sebagimana yang diakui mereka bahwa melalui PPI , program pembelajaran menjadi lebih realistis dibandingfkan dengan materi yang diambil langsung dari kurikulum, sekalipun di sisis lain para guru masih menunjukkan kesulitan didalam menyelaraskan antara urutan materi yang diperoleh berdasarkan hasil asesmen dengan urutan materi yang telah disusun dalam kurikulum (E. Rochyadi, 2000)
Ada dua hal yang panting sebelum pembentukkan tim antara pihak sekolah (kepala sekolah dan guru) dengan orang tua yang harus disiapkan pihak sekolah:

Pertama : pihak  sekolah harus sudah menyiapkan gambaran umum masing-masing anak yang diperoleh berdasarkan hasil asesmen , untuk dikonfirmasikan lebih lanjut kepada orangtua. Hal ini penting karena orang tua cenderung menganggap bahwa pihak sekolah lah (guru dan kepala sekolah)yang memahami segala kondisi putra-putrinya. Akibatnya para orangtua menjadi pasif untuk membantu memberikan latihan atau membantu pendidikan anak dirumahnya. Anggapan seperti itu keliru dan perlu dijelaskan pada mereka bahwa orangtua lah yang sesungguhnya memahami secara detil  tentang perilaku , kelemahan dan kemampuan putranya.informasi mengenai keberadaan kondisi anak dirumah , merupakan data penting bagi sekolah  dalam menindak lanjuti proses pembelajaran mereka. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah alasan-alasan kenapa perlu dibentuk tim PPI secara jelas dan rinci seperti ;  tujuan dan sasaran serta posisi orangtua didalam tim tersebut.
Kedua ; menyiapkan kuesioner mengenai harapan-harapan orangtua dan gambaran umum mengenai  putra-putrinya, sehingga diakhir pertemuan diharapkan dicapai kesepakatan-kesepakatan mengenai prioritas dan sasaran yang akan ditetapkan dalam PPI.

2.      Menilai kebutuhan
Menilai kekuatan dan kelemahan yang akan menjadi rujukan didalam menetapkan kebutuhan anak merupakan langkah awal dari tugas guru selaku tim PPI.  Informasi ini akan menjadi data penting dan pertama harus ditemukan untuk selanjutnya dikembangkan didalam merumuskan tujuan pembelajaran. Proses menenmukan kekuatan dan kelemahan tersebut merupakan penilaian penting yang diperoleh melalui hasil kerja asesmen .
Perolehan mengenai data tadi dapat dilakukan guru melalui kegiatan observasi , baik didalam maupun diluar kelas. Guru juga dapat meminta informasi anak didiknya dari orangtua. Data yang diperlukan meliputi riwayat hidup anak , kebiasaan-kebiasaan atau perilaku yanng ditunjukkan serta bantuan yang sering atau pernah dialkukan orangtua.
Untuk memudahkan data ini tim PPI hendaknya membuat instrument atau format isisan seperti; data riwayat hidup, perkembangan bahasa, motorik, perilaku.
3.      Menggembangkan tujuan pemmbelajaran
Didalam mengembangkan tujuan pembelajaran prosesnya dapat dilakukan melalui penyelarasan antara materi yang ada dalam kurikulum dengan temuan hasil asesmen. Posisi hasil asesmen mungkin akan diletakkan dibawah, ditengah atau diatas dari urutan materi yang terdapat dalam urutan kurikulum, hal ini akan tergantung pada kondisi dan kemampuan yang diperlihatkan oleh setiap anak. Dalam IEP tujuan pembelajaran itu dikenal dengan istilah tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Guru tidak perlu khawatir dengan penggunaan istilah itu. Guru dapat menggunakan istilah yang biasa dilakukan seperti tujuan instraksional umum (TIU) untuk jangka panjang, dan tujuan instraksional khusus (TIK) untuk jangka pendek. Tujuan jangka panjang merupakan tujuan yang akan ditempuh dalam jangka waktu relatif panjang mungkin untuk satu semester atau untuk satu tahun. Sementara tujuan jangka pendek atau tujuan instraksional khusus , merupakan tujuan yang akan menuntut  terjadinya perubahan perilaku yang diharapkan dalam waktu relatif singkat. Untuk itu tujuan jangka pendek ini hendaknya dirumuskan secara spesifik, jelas, mudah diukur, dan bersifat kuantitatif. Artinya ; rumusan tujuan jangka pendek menuntut suatu pertanyaan yang jelas tentang perilaku yang diharapkan serta derajat keberhasilan yang dikehendaki. Melalui rumusan semacam itu akan memungkinkan guru dapat melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa secara lebih tepat dan akurat.
4.      Merancang metode dan prosedur pembelajaran.
Proses pembelajaran yang dirancang dalam PPI hendaknya mampu menggambarkan bagaimana setiap tujuan pembelajaran itu akan dapat diselesaikan, serta bagaimana penilaian keberhasilan anak dalam mencapai tujuan penbelajaran tersebut. Proses pembelajaran mungkin dirancang dengan cara mengkelompokkan anak berdasarkan kondisi dan karakteristik materi yang akan dibelajarkan secara kooperatif, mungkin sangat heterogen dan dikelolah lebih bersifat individual. Proses pembelajaran secara kooperatif ini akan dikelolah guru sesuai kondisi dan situasi peserta didik yang dihadapinya. Perubahan strategi atau metode sangat mungkin terus terjadi. Untuk itu dalam mengelolah proses pembelajaran, kreatifitas guru menjadi sangat menentukan.
5.      Menentukan evaluasu kemajuan
Evluasi kemajuan belajar hendaknya mengukur derajat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam setiap tujuan jangka pendek atau tujuan instruksional khusus. Hal penting yang harus dicamkan dalam melakukan evaluasi keberhasilan siswa adalah melihat terjadinya perubahan perilaku pada diri siswa itu sendiri sebelum dan setelah diberikan perlakuan, dan bukan membandingkan keberhasilan tingkat pencapaian tujuan belajar yang dicapai dengan siswa lain yang ada dikelas itu. Metode evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, test secara tertulis, maupun lisan. Evaluasi keberhasilan itu harus dilakukan dari dua sisi yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil. Kedua penilaian ini memiliki posisi dan kepentingan yang berbeda. Evaluasi proses pentingdalam kaitannya melakukan berbagai perubahan dalam strategi pembelajaran, sementara evaliasi hasil penting untuk melihat tingkat pencapaian keberhasilan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Laporan evaluasi kemajuan siswa hendaknya bersifat kualitatif sebab secara penilaian ini akan memberi gambaran secara nyata. Program bembelajaran individual hendaknya diperbaiki secara terus menerus. Perubahan itu hendaknya merujuk kepada pencapaian tujuan yang telah dan sedang diselesaikan. Serta temuan – temuan yang diperoleh berdasarkan observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Perubahan ini kerap kali terjadi secara signifikan, dan jangan diartikan sebagai kegagalan, melainkan sebagai kemajuan program didalam melakukan perubahan – perubahan tujuan yang lebih positifdan realistis, sejalan dengan kebutuhan anak yang senantiasa berubah – ubah. Oleh karenanya PPI jangan dijadikan semacam kontrak yang sifatnya baku dan kaku, melainkan lentur dan sangat fleksibel. Jika perubahn itu memerlukan modifikasi yang relatif besar , maka hasil modifikasi itu hendaknya dikomunikasikan pada orang tua dalam pertemuan rutin Tim Ppi. Mengkomunikasikan pertemuan orangtua ini penting untuk memperoleh persetujuan dan mengakomodasi harapan baru, sekaligus mengkomunikasikan tugas-tugas yang baru dilakukan orangtua didalam membantu keberhasilan belajar anaknya .  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar