Sabtu, 09 April 2011

proses konseling ABK

a.       Menumbuhkan kesadaran atau pentingnya karir.

Seperti terlihat dari uraian Ginzberg. Pada mulanya anak memilih pekerjaan tanpa memperhatikan tuntutan realitas, lalu menurut keinginan sendiri. Konsep diri kerja yang dimaksudkan oleh super juga belum memadai karena masih kurangnya kontak dengan orang lain, kegiatan, dan peran yang dimainkan. Pada anak luar biasa, kekurangan-kekurangan ini bertahan lebih lama karena diperkuat oleh rentetan kegagalan mencapai sukses dan keengganan orang tua melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Oleh karena itu anak luar biasa pada masa adolesence  banyak yang belum merasa berkepentingan dengan karir yang ditempuhnya.
Agar program dan pelaksanaan bimbingan karier mencapai sasaran yang sebaik-baiknya, agenda pertama yang sebaiknya dilaksanakan ialah membantu anak agar merasa berkepentingan dengan karier. Anak hendaknya menyipkan diri untuk mandiri. Mampu mandiri adalah suatu kehormatan bagi setiap orang.
Yang penting dalam agenda ini dan agenda-agenda selanjutnya bukan istilah karier, melainkan isinya.

a.       Membahas siswa dan lingkungannya
Sebagaimana dikatakan oleh williamson, setiap orang termasuk anak luar biasa mempunyai trait yang dapat diprofilkan. Siswa hendakya mengenal traitnya sendiri dan melihat implikasi-implikasinya bagi karier masa depan. Jika hasil tes baku tidak ada, pembahasan dapat juga didasarkan atas data-data yang lain.
Selain data tentang diri, siswa juga perlu mengenal keadaan teman-temannya , fasilitas yang tersedia di sekolahnya, lembaga pendidikan dan kursus-kursus yang ada di linkungannya.
b.      Menelaah pilihan-pilihan karier
Pada fase-fase permulaan, peelaahan mungkin dilakukan dengan mengenal bidang-bidang pekerjaan , misalnya pertanian, perdagangan , industri, jasa, pemerintahan , dan lain-lain. Selanjutnya, anak perlu juga mengetahui bahwa dalam tiap-tiap bidang terdapat berbagai jenis pekerjaan yang kadang-kadang sama dengan pekerjaan lain, kadang-kadang berbeda. Penelaahan dilakukan bersama dan terbuka dari berbagi sumber.

c.       Menelaah pasaran kerja
Pasaran kerja tidak tetap, melainkan mengalami perubahan. Misal: dahulu ada pasaran kerja membuat keset dari sabut kelapa, sekarang tergeser oleh bahan lain; dahulu ada usaha pembungkusan dengan daun pisang, sekang dengan plastik; dahulu ada usaha membungkus tembakau , sekarang tak ada kecuali pabrik rokok.; dahulu tak ada bursa efek, sekarang ada. Dan lain sebagainya. Apa yang sekarang masih mungkin lima atau sepuluh tahun lagi sudah tidak ada. Sebaliknya apa yang sekarang masih belum ada merupakan usaha beberapa tahun kemudian mungkin sudah menjadi usaha besar-besaran.
Penelaahan pasaran kerja dimaksudkan agar anak tidak memilih bidang atau jenis pekerjaan yang tak lama akan lenyap. Untuk itu diperlukan informasi dari berbagi pihak . guru dan konselor dapat mengundang pihak-pihak yang diperlukan.

d.      Menelaah konsekuensi
Yang dimaksud melakukan pilihan , pekerjaan mana yang akan dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik diri, pasaran kerja, latihan yang tersedia, dan sebagainya. Pada saat itu anak biasanya menjadi bingung . ia hendaknya mengetahui konsekuensi setiap pilihan. Konsekuensi lain ialah;  ia harus memulai mengikuti latihan sesuai dengan pilihan kariernya. Latihan dapat dilakukan disekolah, dapat juga diluar sekolah, bergantung pada kesepakatan anak, sekolah dn keluarganya.

e.       Menelaah pilihan-pilihan lain
Latihn dilakukan sesuai fengan pilihn karier. Adapun hasil latihan seringkali tidak hanya berguna untuk yang dipilih, tapi juga beberapa pekerjaan yang lain, jadi bersifat flexsible. Feksibilitas penggunaan hasil latihan perlu disadari oleh anak. Siapa tahu ia merasa perlu pindah pekerjaan atau terpaksa pindah karena tekanan dari luar.

f.       Memilih arah karier yang pertama
Setelah agenda-agenda terpenuhi, siswa memilih karier yang akan ditempuhnya. Kalau perlu, setelah berlangsung pilihan adakan simulasi kerja mengenai pilihan tersebut. Anak mungkin menganggap perlu meninjau kembali pilihannya.
Untuk melakukan simulasi kerja, guru-konselor meminta bantuan personel lain turut serta dalam simulasi.

mengatasi rendahnya minat membaca

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Betapa penting dan vitalnya aktivitas membaca dalam dinamika kehidupan umat manusia pemerintah telah melakukan kebijakan literasi dengan memanfaatkan September sebagai Bulan Gemar Membaca. Namun, secara jujur harus diakui, kebijakan semacam itu belum diimbangi dengan langkah serius dan intensif dalam membudayakan aktivitas membaca. Harga buku masih terbilang mahal untuk ukuran rata-rata kantong masyarakat kita. Demikian juga rata-rata kondisi perpustakaan. Kondisi perpustakaan sekolah rata-rata lebih parah lagi. Sering dibiarkan terpuruk dan tak terurus.
“Membaca” Indonesia dalam budaya membaca seperti berhadapan dengan cermin buram. Kabur dan tidak jelas. masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat praliterasi yang dihantam oleh gelombang posliterasi (televisi, internet, handphone, dan sebagainya). Mentalitas masyarakat praliterasi  lebih didominasi tradisi lisan atau obrolan. Kelemahan praliterasi adalah kecenderungannya memerhatikan efek atau aura dari suatu permasalahan. Hal ini dikarenakan mentalitas praliterasi cenderung tidak menumbuhkan kemampuan berjarak dari suatu fenomena, berefleksi terhadap pengalaman, serta menyusunnya secara sistematis. Manusia praliterasi cenderung reaktif dan spontan.
Persentuhan dengan berbagai media posliterasi tanpa arah malah menghasilkan sikap penggunaan teknologi canggih sebatas untuk ngobrol ngalor-ngidul. Kondisi semacam itu lebih problematis dengan masuknya gelombang posliterasi dalam bentuk negatif dan tidak produktif. Warnet dipenuhi mahasiswa yang kecanduan chatting. Telefon jadi media ngerumpi sinetron dan gosip artis oleh ibu rumah tangga. Handphone memunculkan kebiasaan baru berupa SMS parodi dan konyol. Bukan rak buku, lampu baca atau perpustakaan pribadi yang umumnya jadi pertimbangan masyarakat Indonesia dalam menata rumah, tapi ruang menonton keluarga dan letak televisi yang nyaman. Akibatnya, minat baca yang minim malah terjadi juga di masyarakat literasi Indonesia (yaitu, mereka yang bisa mengenyam pendidikan tinggi), ditambah pendidikan yang tidak inspiratif. Hal itu menyuburkan apresiasi dan cara berpikir yang dangkal.
Ironis! Persentuhan dan keakraban masyarakat kita terhadap produk-produk posliterasi bukannya menumbuhkan budaya yang positif, melainkan justru melahirkan budaya-budaya “purba” sekaligus mengembalikan naluri bangsa sebagai bangsa yang malas membaca.
Problem mendasar yang dihadapi bangsa ini sebenarnya juga terletak pada faktor keteladanan. Di tengah-tengah masyarakat kita yang masih kuat nilai-nilai paternalistiknya, orang-orang yang berada di lapisan bawah cenderung akan melihat pada kultur dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di lapisan atasnya. Ketika orang-orang yang seharusnya menjadi anutan, orang tua, tokoh masyarakat, atau figur publik lainnya, malas membaca, jangan salahkan kalau orang-orang yang berada di lapisan bawah akan mengadopsi dan mengadaptasi kultur yang iliterate semacam itu. Demikian juga di bangku pendidikan. Bagaimana mungkin para murid memiliki kultur membaca yang baik kalau sang guru tidak mampu menunjukkan keteladanan gemar membaca buku. Bahkan banyak guru yang dengan amat bangga dan merasa dirinya paling hebat kalau di kelas tidak membawa buku. Materi pelajaran sudah hafal di luar kepala.
Budaya membaca juga sangat erat kaitannya dengan kultur sebuah generasi. Mengharapkan generasi sekarang agar menjadi teladan bagi anak cucunya dalam membudayakan gemar membaca agaknya juga sulit diharapkan kontribusinya. Keterpukauan terhadap produk posliterasi telah melahirkan budaya baru yang makin menjauhkan generasi masa kini untuk gemar membaca. Yang perlu dilakukan sekarang adalah melahirkan generasi baru yang dengan amat sadar menjadikan aktivitas membaca sebagai sebuah kebutuhan (bukan kewajiban).
Sudah amat lama labelitas sebagai bangsa yang malas membaca menempel di dalam tubuh bangsa ini. Oleh karena itu, melalui makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternative untuk meningkatkan gairah membaca dan mengatasi masalah-masalah yang terjadi dalam hubungannya dengan budaya malas membaca.

B. Rumusan Masalah
Selanjutnya Makalah ini akan dibahas dalam pokok pembahasan, yang menjadi rumusan masalah dalam Studi Kasus ini yaitu :
1. Apa faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah?
2. Bagaimana cara mengatasi rendahnya minat membaca?
C. Tujuan

Tujuan penyusunan Studi Kasus ini adalah antara lain untuk menyadari bahwa memang di Indonesia,khususnya masyarakat daerah pinggiran ( Lamongan), kesadaran terhadap membaca buku sebagai kebutuhan primer sangat kurang. Oleh karena itu, diharapkan setelah membaca makalah ini dapat menumbuhkan kembali minat baca dan menambah informassi mengenai minat baca masyarakat indonesia.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Kajian Teori
Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini.
Saat berbicara dalam seminar "Libraries and Democracy" digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.

oleh karena itu, pengembangan minat baca merupakan solusi yang tepat, apalagi anak SD yang dibiasakan dengan budaya baca dan tulis memiliki prestasi tinggi dibanding anak SD yang selama enam tahun tidak dibiasakan dengan budaya baca dan tulis," katanya dalam seminar yang juga menampilkan pakar perpustakaan dari Jerman Prof Dr Phil Herman Roch itu.

Senada dengan itu, pakar perpustakaan dari Jerman Hermann Rosch menyatakan, perpustakaan itu menunjang pembelajaran sepanjang hidup, pengembangan pandangan yang tak muncul di permukaan, dan mendukung transparansi.
"Perpustakaan itu tidak hanya berfungsi pendidikan, tapi juga sosial, politik, dan informasi. Fungsi sosial terkait dengan pengembangan emansipasi, sedangkan fungsi politik terkait dengan kompetisi ide dan transparansi. Untuk fungsi informasi terkait dengan upaya mendorong keterbukaan dalam masyarakat," katanya.



B. mengatasi rendahnya minat baca 

Membaca harus menjadi kebiasaan yang tidak boleh ditinggalkan karena erat kaitannya dengan kualitas manusia pada suatu bangsa. Jika malas membaca, bangsa itu pasti kalah dalam perkembangan era teknologi yang pesat saat ini.
“membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” Sepintas ungkapan itu sederhana, namun di dalamnya terkandung makna penting.
minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Itu terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Bahwa, masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id).
Data lainnya, misalnya International Association for Evaluation of Educational (IEA). Tahun 1992, IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD.
Ada banyak faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah. Pertama, ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang bermutu dan memadai. Bisa dibayangkan, bagaimana aktivitas membaca anak-anak kita tanpa adanya buku-buku bermutu. Untuk itulah, ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku bermutu menjadi suatu keniscayaan bagi kita.
Dengan kata lain, ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap orang dan/atau anak-anak untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dari situlah, tumbuh harapan bahwa masyarakat kita akan semakin mencintai bahan bacaan. Implikasinya, taraf kecerdasan masyarakat akan kian meningkat; dan oleh karena itu isyarat baik bagi sebuah kerja perbaikan mutu perikehidupan suatu masyarakat.
Kedua, banyaknya keluarga di Indonesia yang belum mentradisikan kegiatan membaca. Padahal, jika ingin menciptakan anak-anak yang memiliki pikiran luas dan baik akhlaknya, mau tidak mau kegiatan membaca perlu ditanamkan sejak dini. Bahkan, Fauzil Adhim dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca (2007) mengatakan, bahwa semestinya memperkenalkan membaca kepada anak-anak sejak usia 0-2 tahun. Apa penyebabnya? Sebab, pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi. Dalam menyerap informasi baru, mereka akan lebih enjoy membaca buku ketimbang menonton TV atau mendengarkan radio.
1. mengatasi malas membaca pada diri sendiri

ada beberapa hal umum yang harus diperhatikan dalam belajar,khususnya membaca. Diantaranya adalah makanan yang bergizi serta kondisi tubuh yang sehat. Apabila hal tersebut telah terpenuhi, dapat menggunakan cara untuk mengatasi malas membaca dalam diri sendiri sebagai berikut:
  1. Pastikan stamina tubuh dalam kondisi baik. Yang harus dilakukan adalah konsumsi makanan dan minuman bernutrisi lengkap dan seimbang, olah raga teratur.

    2. Cahaya dan sirkulasi udara di tempat anda membaca sebaiknya cukup. Terlalu terang atau suram membuat mata kelelahan menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya. Kekurangan oksigen membuat tubuh lemas dan berujung pada kantuk.

    3. Jangan baca tulisan seperti membaca cerita dongeng pengantar tidur. Sekalipun yang dibaca adalah cerita dongeng, sempatkan diri untuk menganalisis tulisan tersebut. Banyak yang dapat dianalisis, tokoh, alur, layout, dan lain-lain. Selain analisis, berikan komentar, kritik, atau saran. Tulis saja di secarik kertas untuk konsumsi pribadi (kecuali anda sangat rajin untuk mengirim komentar tersebut ke penulis). Dengan begini otak tetap aktif bekerja. Kalau otak sibuk, biasanya tubuh juga tetap siaga. Contoh: orang yang kantuk berat tidak dapat nyenyak karena berpikir, entah yang dipikirkan adalah masalah atau apa pun itu.

2. mengatasi anak malas membaca
Anak tidak mau belajar atau malas untuk membaca buku pelajaran, sering jadi keluhan orang tua. Anak lebih suka melihat tayangan televisi, seperti sinetron, film atau bermain dengan teman-teman sebayanya.
Jika anak tidak mau belajar, mereka menganggap bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang kurang menyenangkan dibandingkan dengan bermain atau nonton. Untuk mengatasi anak yang malas belajar adalah dengan membuat anak menganggap belajar adalah kegiatan yang menarik, menyenangkan atau membuat mereka sadar bahwa belajar adalah suatu kebutuhan.
berikut ini adalah cara untuk mengatasi anak malas belajar :
  • Tanamkan kesadaran kepada anak bahwa belajar atau membaca buku adalah suatu kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang pelajar yang hasilnya akan diraih dimasa mendatang.
  • Berikan contoh kepada sang anak. Orang tua dapat turut membaca buku-buku yang bermanfaat saat anak sedang belajar.
  • Orang tua sebaiknya juga menanamkan budaya membaca di lingkungan keluarga.
  • Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Buat ruang belajar yang menarik, rapi dan tidak membuat anak malas di dalam ruang belajar.
  • Berikan motivasi kepada anak untuk belajar dengan cara yang baik, adakan pendekatan sambil menyelami hati anak dengan menjadikan anak sebagai sahabat. Jangan menyuruh anak belajar dengan memaksakan anak, apalagi dengan cara yang kasar.
  • Berikan insentif kepada anak, baik berupa hadiah kesukaan mereka atau sekedar pujian jika nilai anak bagus. Hal ini akan membantu memotivasi anak.
  • Sebaiknya orang tua lebih terbuka dengan anak dengan menanyakan permasalahan yang dia hadapi, kenapa malas belajar, apa yang dapat membuat ia semangat untuk belajar dan sebagainya. Bantu anak untuk mengatasi permasalahan tersebut.
  • Pilih waktu yang paling tepat untuk anak belajar. Hendaknya orang tua juga turut membantu anak dengan tidak menonton televisi, atau tidak mendengarkan musik keras-keras.
  • Jadikan waktu belajar ini menjadi kebiasaan rutin sehari-hari, dan sebaiknya orang tua juga menemani dan membantu jika anak mengalami kesulitan saat belajar.
  • Selain waktu belajar yang rutin, sediakan juga waktu yang cukup untuk bermain, menonton dan berinteraksi dengan teman-temannya
C.  Peranan Pemerintah
            pemerintah daerah dan pusat bisa menggalakkan program perpustakaan keliling atau perpustakaan menetap di daerah-daerah. Sementara soal penempatannya, pemerintah bisa berkoordinasi dengan pengelola RT/RW atau pusat-pusat kegiatan masyarakat desa (PKMD). Semakin besar peluang masyarakat untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar, semakin besar pula stimulasi membaca sesama warga masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga memberikan subsidi lebih untuk harga buku, karena salah satu faktor minimnya minat baca buku adalah mahalnya atau sulit terjangkaunya harga buku.





BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN

Malas membaca telah mengakar dalam kebanyakan masyarakat indonesia. Hal ini telah membudaya ditiap jiwa perseorangan kebanyakan. Ada banyak faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah. Pertama, ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang bermutu dan memadai.Kedua, banyaknya keluarga di Indonesia yang belum mentradisikan kegiatan membaca. Peran orangtua dan dan diri sendiri sangat penting dalam membangun minat membaca ini. Diharapkan dengan beberapa cara alternatif tersebut dapat menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari.









DAFTAR PUSTAKA

Yonohudiyono, E. dkk. 2007. Bahasa Indonesia Keilmuan. Surabaya: Unesa University Press.
Hufad,Achmad,Ardiwinata,jajat.2007.Sosiologi Antropologi Pendidikan.Bandung.UPI Press.













Autism

Istilah autisme pertama kali diperkenalkan oleh Leo Kanner pada tahun 1943 (Handoyo, 2004:12; Hidayat, 2006:1). Saat itu Leo Kanner (1943) dalam Safaria (2005:1) mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan yang tertunda, echolalia, pembalikan kalimat dan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkunganya.
Seorang anak dapat dikatakan termasuk autisme, bila ia memiliki hambatan perkembangan dalam tiga aspek, yakni hambatan dalam interaksi sosial-emosional, dalam komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan, gejala-gejala tersebut sudah terlihat sebelum usia 3 tahun (Siegel, 1996:16; Moetrasi, 2000:2; Pusponegoro, 2003:2; Hidayat, 2006;2; Erlani, 2007:6). Ketiga aspek tersebut harus dipenuhi dan harus secara ketat dalam penerapannya, agar tidak sembarangan dalam menentukan apakah seorang anak itu termasuk kategori anak autis atau bukan.
Komunikasi merupakan suatu proses pengiriman pesan dari seseorang kepada orang lain. Tujuan komunikasi adalah untuk mengungkapkan keinginannya, mengekspresikan perasaan, dan bertukar informasi. Tetapi hal ini sulit dilakukan oleh anak penyandang autisme sehingga membuat orang tua mengeluh dan semakin khawatir akan perkembangan/kemampuan komunikasi anaknya.
Gangguan komunikasi pada anak autisme ditandai dengan tidak adanya kontak mata saat berbicara, terlambatnya bicara atau sama sekali belum dapat bicara (gangguan komunikasi verbal/nonverbal). Terlambatnya bicara berhubungan dengan kemampuan anak untuk menyampaikan kebutuhannya sehingga membuat anak mudah frustrasi, kesepian, dan dapat menunjukkan gangguan perilaku karena kebutuhan anak yang tidak dapat dipenuhi oleh lingkungan.
Pemahaman terhadap bahasa dan kemampuan untuk berkomunikasi dua arah lebih penting daripada hanya dapat berkomunikasi tanpa memahami apa yang diucapkan anak atau yang diucapkan oleh orang lain. Untuk itu kita harus mempunyai strategi dalam berkomunikasi dengan anak autisme agar mereka dapat memahami komunikasi dua arah. Anak autisme memiliki kemampuan yang menonjol di bidang visual daripada materi yang dipelajari hanya dengan ucapan saja. Visual dapat lebih membantu anak dalam memahami pesan yang disampaikan oleh dirinya atau orang lain.

Penyebab sulit bicara
ü  Masalah pada otot tubuh (susah menggerakkan otot secara cepat dan kuat)
ü  Kurang banyak diajak berinteraksi (dibiarkan asik sendiri, dilayani penuh)
ü  Belajar beberapa bahasa sekaligus
ü  Kecemasan untuk berbicara (takut salah, tidak berani kontak mata)
ü  Susah mengerti bahasa
ü  Pengajaran bahasa yang kurang tepat (terlalu banyak bdiberi perintah, penggunaan bahasa tidak konsisten)

Bicara vs Komunikasi
ü  Anak yang bisa berbicara dan bernyanyi BELUM TENTU bisa berkomunikasi dengan baik
ü  Dalam komunikasi dibutuhkan kemampuan mengirimkan pesan, memahami pesan dari orang lain, memberikan jawaban yang tepat
ü  Komunikasi pada anak autis tidak harus selalu melibatkan bahasa verbal, tapi bisa dengan bahasa isyarat, gambar, dan tulisan

Ekolalia (mengulang kata/kalimat)
Banyak anak autis yang tidak tahu bahwa bicara gunanya untuk komunikasi. Mereka lebih banyak berbicara pada diri sendiri.
Ekolalia sebenarnya berguna bagi anak misalnya menimbulkan perasaan senang menenangkan diri dan memblokir suara-suara bising dari luar membantu mengerti ucapan orang lain

Tahapan komunikasi anak autis

1.      The Own Agenda Stage
ü  Asik dengan dirinya sendiri Belum tahu bahwa komunikasi dapat mempengaruhi orang lain
ü  Mengambil sendiri makanan/benda-benda
ü  Interaksi hanya dengan orangtua/pengasuh
ü  Belum dapat bermain dengan benar
ü  Menangis/berteriak bila terganggu

2.      The Requester Stage
ü  Sadar bahwa tingkahlakunya mempengaruhi orang lain
ü  Menarik tangan bila ingin sesuatu
ü  Menyukai kegiatan fisik
ü  Mengulangi kata/suara untuk diri sendiri
ü  Dapat mengikuti perintah sederhana
ü  Memahami rutinitas sehari-hari

3.      The Early Communication Stage
ü  Komunikasi dengan gesture, suara, gambar
ü  Menggunakan bentuk komunikasi tertentu secara konsisten
ü  Komunikasi untuk pemenuhan kebutuhan
ü  Memahami kalimat sederhana
ü  Dapat belajar menjawab pertanyaan "Apa ini/itu?", mengenal konsep "Ya/Tidak"

4.      The Partner Stage
ü  Mulai melakukan percakapan sederhana
ü  Menceritakan pengalaman masa lalu dan keinginan yang belum terpenuhi
ü  Masih terpaku pada kalimat yang dihafalkan
ü  Bagi anak non-verbal, mampu menyusun kalimat dengan gambar atau tulisan
ü  Masih mengalami k












                                                                                                                          

kesejahteraan sosial ABK

Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sosial merupakan bgian yang integral dari pembangunan nasional. Di Indonesia pembangunan kesejahteraan sosial mempunyai landasan yang kuat seperti, landasan idiil adalah pancasila, landasan konstitusional adalah UUD 1945,dan landasan operasional adalah UU No.6 tahun 1974, tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan sosial. Landasan-landasan tersebut untuk mengatur segal macam tindakan atau kebijakan tentang kesejahteraan sosial sebagai hak dan kewajiban masyarakat dan pemerintah.
Masyarakat mempunyai peranan untuk membantu pemerintah. Masyarakat diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengadakan usaha kesejahteraan sosial selaras dengan garis kebijaksanaan dan ketentuan pemerintah. Bentuk bantuan masyarakat dalam upaya membantu pemerintah adalahmelaui organisasi-organisasi sosial, yayasan – yayasan atau lembaga-lembaga sosial.
  1. Pengertian kesejahteraan sosial
Kesejahteraan sosial sebagai suatu unsur penting dalam kegiatan pembangunan nasional yang komprehensif dan juga sebagai pencerminan filsafat serta kebutuhan masyarakat yang mengalami perubahan dan perkembangan secara cepat, telah banyak memperoleh pengakuan, hal ini terbukti banyaknya para ahli memberikan definisi sesuai dengan falsafah dan pandangannya mengenai kesejahteraan sosial.
Secara umum, kesejahteraan sosial dapat disimpulkan sebagi berikut:
  • Kesejahteraan sosial ialah suatu sistem yang terorganisasi dari kumpulan layanan dan lembaga sosial
  • Tujuannya ialah membantu individu – individu , kelompok dan masyarakat untuk mencapai taraf hidup dan relasi-relasi sosial serta penyesuaian yang memuaskan,
  • Untuk mencapai tujuan itu, individu, kelompok, dan masyarakat dibantu untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah.
Kesejahteraan sosial umunya diartikan sebagi kegiatan yang terorganisasi dari lembaga-lembaga pemerintah dan masyarakat untuk mencegah, menguragi, atau memberi bantuan tehadap permasalahan-permasalahn sosial atau meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial dari individu, kelompok dan masyarakat.

Sumber dari SLB Gedangan
Oleh: Bpk. Soehermanto (kepala SLB Gedangan)
Menurut bapak suhermanto antara dinas sosial sidoarjo dengan SLB Gedangan , secara resmi belum ada hubungan. Adapun bantuan dari pihak luar adalah BK3S, itupun berdasarkan event tertentu (Hari ulang tahun Penyandang cacat) yang ada di surabaya. Dinas sosial baik dari provinsi dan daerah belum memiliki peranan terhadap keberadaan SLB ini.  Isi dari kegiatan BK3S adalah kegiatan pameran dan lomba-lomba. Melalui kegiatan ini, SLBN Gedangan akan mendapat bantuan biaya transportasi..
Yang memiliki peranan penting terhadap SLB ini adalah Dinas Pendidikan
Status kelembagaan dan tenaga dimiliki provinsi TK.1. di Sidoarjo ada 24 SLB,  yang milik  provinsi 1  adalah SLBN Gedangan. Dengan  Sidoarjo hubungannya adalah ketika ada ujian. Dana sosial lebih dari provinsi.
Dana dari dinas sosial lebih diarahkan pada lembaga-lembaga sosial.
UPAYA KESEJAHTERAAN SISWA                                        
Siswa di SLBN Gedanga tidak dikenakan SPP (SPP Gratis), hal ini dibiayai dari Beasiswa, BOS, BKSM (Bantuan Khusus Siswa Miskin). Semua sumber dana tersebut diberikan dari pemerintah.  Beasiswa diberikan pada siswa yang berprestasi , ekonomi lemah,rumahnya jauh. Di SLB ini hampir semua mendapat beasiswa , yang tidak mendapat beasiswa biayanya akan ditanggung bersama . kebijakan ini berasal dari pemerintah (APBD). Adapun fasilitas-fasilitas yang ada di SLBN ini lebih dibiayai dengan bantuan yayasan Hangtuah.
Di SLBN Gedangan ada 48 tenaga kerja.43 guru telah menjadi Pegawai Negeri, 2 guru honorer , 1 Tata Usaha, 2 tenaga kebersihan. Anggaran untuk gaji guru honorer dn tata usaha berasal dari BOS (diambilkan 20%), dan gaji tenaga kebersihan berasal dari propinsi yang dilewatkan CV.

DINAS SOSIAL KABUPATEN SIDOARJO
Oleh ; Ibu Rupiyatun (Ka Sie Kelembagaan)
Peranan Dinas Sosial di SLB tidak ada. Yang terkait dengan SLB adalah Dinas Pendidikan.  Dinas sosial memberikan bantuan pada panti atau asrama yang telah terdaftar di kementrian sosial,apabila di SLB tersebut terdapat panti, maka dinas sosial mau memberikan bantuan, namun sayangnya di SLB seluruh Sidoarjo belum terdapat Asrama yang terdaftas di dinas sosial. Dinas sosial hanya berperan terhadap kesosialan. Dinas sosial tidak ikut campur dengan SLB. Adapun spesifikasi Dinas sosial hanya berhubungan dengan tunalaras (Tertirah, PSK,dll ). Bentuknya adalah anak dididik sesuai keahlian dengan dibimbing dalam waktu 3 - 6 bulan. Setelh itu anak dilepaskan kembali, dan dievaluasi. Apabila msih belum menunjukkan perubahan maka anak akan diberikan bimbingan kembali sampai anak sadar. Bimbingan ini dilakukan di Jombang. Hambatan yang ada adalah tenaga pengajar, dana, anak yang tidak dapat jujur.
Dinas sosial juga memberikan bantuan bimbingan pada anak tunanetra. Bimbingan tersebut berupa pelatihan masasse dan bantuan alat-alat untuk bekerja. Dinas sosial juga memiliki kerjasama dengan perusahaan yang mampu menampung tenaga kerja lulusan dari bimbingan tersebut diatas, jadi apabila dimungkinkan anak masuk dalam perusahaan tersebut maka anak akan direkrut untuk bekerj ditempat tersebut.
Anak berkebutuhan khusus apabila bertempat dirumah, dinas sosial tidak akan memberi bantuan. Apabila anak berkebutuhan khusus tersebut diletakkan di Panti atau asrama yang telah terdaftar di Kementerian sosial . contohnya di Panti Bakti Luhur, terdapat 3 anak Hydrocephalus. 
Alur pemberian bantuan dari Dinas sosial ke panti adalah sebagai berikut;
  1. Panti tersebut mengajukan surat pada dinas sosial, dengan syarat panti atau asrama tersebut terdaftar dalam kementrian sosial.
  2. Menandatangani STP
  3. Setelah mendapat izin,baru panti atau srama tersebut diberi bantuan.

Jumat, 18 Maret 2011

Bacillus Calmette Guerrin

BCG
IMUNISASI BCG
A. Pengertian
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak.
B. Tujuan
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.
C. Jenis-jenis Imunisasi
Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit dan imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat.
jenis-jenis imunisasi diantaranya imunisasi BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, Campak, DPT/Hb combo, DT, TT
D. Tehnik Pemberian Imunisasi
Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi. Antibodi itu uumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang.

IMUNISASI BCG
• Perlindungan Penyakit : TBC / Tuberkolosis
• Penyebab : Bakteri Bacillus Calmette Guerrin
• Kandungan : Bacillus Calmette-Guerrin yang dilemahkan
• Waktu Pemberian :
Umur < 3 bulan, dengan pemberian hanya sekali dan cara pemberian yankni dengan sunik IC (Intramuscullar)
Visi, Misi, dan tujuan pemberian imunisasi BCG
Visi
Tuberculosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Misi
- Menetapkan kebijakan , panduan , membuat evaluasi secara tepat, benar, lengkap
- Kemitraan dan transparansi upaya penanggulangan penyakat TB
- Mempermudah akses pelayanan sesuai dengan standar mutu tujuan
Tujuan
Jangka panjang ; menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit TB.
Jangka pendek: - angka kesembuhan minimal 85%
- cakupan penemuan 70 %
A. Penggunaan Vaksin BCG untuk Pencegahan Tuberculosis
Tuberculosis atau lebih sering disebut dengan TBC adalah infeksi kronis bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis menderita TBC tanpa mengalami gejala, hal ini yang disebut dengan latent tuberculosis. Jika daya tahan tubuh mengalami penurunan karena usia, malnutrisi, infeksi seperti HIV, atau karena faktor lain, bakteri akan aktif dan menyebabkan active tuberculosis.
Berdasarkan data WHO, setiap tahun, sekitar 8 juta orang di seluruh dunia mengalami active tuberculosis dan hampir 2 juta diantaranya meninggal dunia.
TBC seperti telah disebutkan sebelumnya disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru. Akan tetapi, bakteri tuberculosis juga dapat menyerang bagian lain tubuh seperti ginjal, spine, dan otak.
TBC menyebar melalui udara dari satu orang ke orang lainnya. Bakteri tuberculosis terdapat pada udara ketika orang dengan active tuberculosis mengalami batuk atau bersin. Orang-orang yang ada di sekitarnya mungkin menghirup udara yang mengandung bakteri ini dan selanjutnya menjadi terinfeksi.
Pada orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis, secara alamiah tubuh memiliki mekanisme pertahanan untuk melawan perkembangan bakteri. Akibatnya bakteri menjadi inaktif, tetapi masih tetap tinggal di dalam tubuh. Inilah yang disebut dengan latent tuberculosis. Pasien yang mengalami latent tuberculosis memiliki ciri-ciri:
1. Tidak mengalami gejala TBC.
2. Tidak merasa sakit.
3. Tidak dapat menyebarkan bakteri tuberculosis.
4. Biasanya pada PPD test (tuberculosis skin test reaction) memberikan hasil positif.
5. Pada beberapa kasus, dapat mengalami perkembangan menjadi active tuberculosis jika tidak menerima terapi.
Apabila pasien yang tidak menerima pengobatan, mengalami penurunan daya tahan tubuh maka latent tuberculosis akan berkembang menjadi active tuberculosis. Active tuberculosis adalah kondisi di mana sistem imun tubuh tidak mampu untuk melawan bakteri tuberculosis yang terdapat dalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi terutama pada bagian paru-paru. Gejala untuk active tuberculosis meliputi :
1. Batuk berkepanjangan selama 3 minggu atau lebih.
2. Nyeri pada bagian dada.
3. Batuk berdahak atau berdarah.
4. Penurunan berat badan.
5. Demam, menggigil, dan berkeringat pada malam hari.
6. Kelelahan dan kehilangan selera makan.
Diagnosis untuk TBC dapat dilakukan dengan Tuberculin test dan Uji mikrobiologi.
Sasaran untuk terapi TBC adalah pada bakteri Mycobaterium tuberculosis dan pada sistem imun tubuh. Tujuan terapi untuk TBC adalah sedapat mungkin bersifat preventif atau pencegahan timbulnya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis dan bila telah terjadi infeksi maka menghilangkan gejala TBC, mencegah keparahan, dan sembuh. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk terapi TBC adalah :
1. Penggunaan vaksin BCG (bacille Calmette -Guerin).
2. Pengobatan pada pasien latent tuberculosis.
3. Pengobatan pada pasien active tuberculosis dengan menggunakan antibiotik (isoniazid, rifampin, dsb) selama kurang lebih 6 bulan.

Selanjutnya yang akan dibahas lebih lanjut adalah tentang penggunaan vaksin BCG untuk pencegahan TBC.
Vaksin merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan (bakteri, virus, atau riketsia) yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit yang menular. Vaksin BCG merupakan suatu attenuated vaksin1 yang mengandung kultur strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap TBC dan telah digunakan sejak tahun 1921. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi efikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara 0 – 80% di seluruh dunia. Vaksin BCG secara signifikan mengurangi resiko terjadinya active tuberculosis dan kematian. Efikasi dari vaksin tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur, cara/teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada infants, dan anak-anak yang hasil uji tuberculinnya negatif dan yang berada dalam lingkungan orang dewasa dengan kondisi terinfeksi TBC dan tidak menerima terapi atau menerima terapi tetapi resisten terhadap isoniazid atau rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus diberikan kepada tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dengan pasien infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG (selain bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu menjalani skin test. Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien yang hasil uji tuberculinnya posistif atau telah menderita active tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG tidak memiliki efek untuk pasien yang telah terinfeksi TBC.
Vaksin BCG merupakan serbuk yang dikering-bekukan untuk injeksi berupa suspensi. Sebelum digunakan serbuk vaksin BCG harus dilarutkan dalam pelarut khusus yang telah disediakan secara terpisah. Penyimpanan sediaan vaksin BCG diletakkan pada ruang atau tempat bersuhu 2 – 8oC serta terlindung dari cahaya. Pemberian vaksin BCG biasanya dilakukan secara injeksi intradermal/intrakutan (tidak secara subkutan) pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan sebagai alternatif bagi bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi intradermal. Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Untuk infants atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,05ml (0,05mg).
2. Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,1 ml (0,1mg).
Perlindungan yang diberikan oleh vaksin BCG dapat bertahan untuk 10 – 15 tahun. Sehingga re-vaksinasi pada anak-anak umumnya dilakukan pada usia 12 -15 tahun.
Vaksin BCG dikontra-indikasikan untuk pasien yang mengalami gangguan pada kulit seperti atopic dermatitis, serta baru saja menerima vaksinasi lain (perlu ada interval waktu setidaknya 3 minggu). Vaksin BCG juga tidak diberikan untuk :
1. Pasien dengan gangguan imunitas (immunosuppressed) seperti pasien HIV, pasien yang mengkonsumsi obat-obat kortikosteroid (immunosuppressan), atau baru saja menerima transplantasi organ.
2. Wanita hamil dan menyusui, walaupun belum ada data yang menunjukkan efek bahaya dari pemberian vaksin BCG terhadap wanita hamil dan menyusui.
Pemberian vaksin BCG dikatakan berhasil jika memiliki ciri sebagai berikut:
Suntikan BCG yang benar adalah yang ditanam di kulit, tidak dalam, dan tidak masuk ke otot seperti halnya suntikan DPT (pada IC). Setelah disuntik, permukaan kulit yang menjadi lokasi suntikan akan melendung/membengkak karena suntikannya menyusur kulit itu.
Dua bulan kemudian, di bekas suntikan tersebut terjadi luka kecil yang melendung dan kadang bernanah. Itu pertanda bahwa vaksin BCG-nya "jadi" dan luka itu nantinya akan mengering menjadi bentol kecil. Jadi, ciri imunisasi BCG yang berhasil ada dua, yaitu kulit yang melendung jika penyuntikan dilakukan dengan benar dan terjadinya luka kecil dua bulan kemudian jika vaksinnya mencapai sasaran.
Sesuai konsensus nasional, agar mudah dilihat apakah seorang anak pernah atau belum diimunisasi BCG, maka suntikan ini umumnya dilakukan di lengan atas sebelah kanan.

bila suntikan BCG tidak berbekas, Mungkin kualitas vaksinnya tak bagus atau tubuh anak tak bereaksi. Pada anak yang mengalami kurang gizi, suntikan BCG ini tak akan "jadi" karena daya tahan tubuhnya kurang bagus. Anak yang kurang gizi biasanya tak akan memberi reaksi terhadap vaksinasi apa pun. Agar berhasil, vaksinasi hanya bisa diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh baik. Kalau gizi atau daya tahan tubuhnya jelek, maka tubuhnya tak mampu membuat zat-zat tertentu yang dibutuhkan untuk membuat zat anti.

Cara penyuntikan BCG

• Bersihkan lengan dengan kapas air

• Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berlubang menghadap keatas.

• Suntikan 0,05 ml intra kutan

Beberapa reaksi yang mungkin terjadi setelah pemberian vaksin BCG antara lain:
• Nyeri pada tempat injeksi, terjadi ulcer atau keloid karena kesalahan pada saat injeksi.
• Kelebihan dosis dan pemberian vaksin pada pasien dengan tuberculin positif.
• Sakit kepala, demam, dan timbul reaksi alergi
Beberapa contoh vaksin BCG yang tersedia di Indonesia adalah : Vaksin BCG kering (Bio Farma) dan BCG Vaccine SSI (Statent Serum Institut – Denmark).
1 Attenuated vaksin : vaksin yang disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup yang dibiakkan di bawah kondisi yang tidak sesuai agar kehilangan virulensinya tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk menginduksi kekebalan.












DAFTAR PUSTAKA


Soetjiningsih, dr, spAK . 1995 . Tumbuh Kembang Anak . Denpasar ; Penerbit Buku Kedokteran
http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/
http://www.opera.com/imunisasi+BCG

individual educational program autism children

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : III/ II
Alokasi waktu : 2 X 35 menit (2X pertemuan)
Standard Kompetensi : mamahami semua abjad dalam alphabet
I. Materi pokok : kata benda dengan huruf M dan N, serta B dan D
II. Kompetensi Dasar :1.1 membedakan huruf M dan N, dengan B dan D
III. Indikator :1.1.1 mengenal huruf m dengan n, dan b dengan d
1.1.2 menerapkan penggunanaan huruf m dengan n, dan b dengan d pada kata yang benar
IV. Tujuan Pembelajaran :
1.1.1.1 melalui gambar, siswa dapat menyebutkan huruf yang ada pada benda digambar
1.1.1.2 melalui gambar dan bimbingan guru, siswa dapat menunjukkan huruf m,n,b,d
1.1.2.1 tanpa bimbingan guru, siswa dapat membedakan huruf m dengan n, dan huruf dengan d
1.1.2.2 dengan bimbingan guru, siswa dapat memberikan contoh kata yang menggunakan huruf m, n, b, d.
V. Metode dan model pembelajaran:
Model pembelajaran : model pembelajaran langsung
Metode yang digunakan; Demonstrasi dan tanya jawab
VI. Sumber pembelajaran:
- gambar mangga, nanas, melon, melon, bebek, domba, badak yang diperoleh dari internet
VII. Alat dan Bahan :
- Buku tulis, pensil, penghapus
VIII. Langkah Pembelajaran:
1. Kegiatan awal (10-15 menit)
1. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, memeriksa kehadiran siswa dan kelengkapan serta kerapihan siswa (apersepsi).Guru memberikan motivasi kepada siswa agar siswa siap untuk belajar, dengan instruksi sebagai berikut “ayo anak-anak, ibu hari ini banyak membawa gambar loh! Apa kalian tahu gambar apa yang ibu bawa ini? Apa kalian bisa menunjukkan huruf apa saja yang ada digambar ini? ...kalau begitu, ayo kita belajar bersama hari ini...” (Fase 1)
2. guru menunjukkan gambar mangga, nanas, monas, menara, bebek, domba, badak. Dari gambar tersebut, guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai kata atau huruf yang ada pada gambar. Instruksi yang dipakai oleh guru adalah sebagai berikut “pernahkah kalian melihat ini semua?apa namanya?apa saja hurufnya?...” (fase 2)
3. Dari informasi jawaban siswa, Guru kemudian mengarahkan kepada materi pembelajaran hari ini yaitu buah melon dan buah semangka. (Fase 3)

2. Kegiatan Inti (40 menit)
Kegiatan guru Kegiatan siswa
1. Guru menunjukkan gambar berbagai benda yang menggunakan huruf m,n dan b,d (mangga, nanas, monas, menara, bebek, domba, badak). Kemudian guru meminta siwa untuk menunjukkan huruf apa saja yang ada pada gambar tersebut dengan instruksi sebagai berikut :”ayo anak-anak, gambar apa yang ibu bawa? Huruf apa saja yang ada pada gambar ini?”(fase 2) 1. Siswa mengatakan nama benda dalam gambar. Kemudian siswa menyebutkan huruf-huruf yang ada pada gambar
2. Guru menunjukkan gambar, kemudian mmberitahukan satu persatu huruf pada gambar benda tersebut. Guru mengulang pengucapan huruf m dengan n dan b dengan d agar siswa mampu membedakan huruf tersebut.(fase 3) 2. Siswa mengamati gambar dan huruf-huruf pada kata mangga, nanas, monas, melon, bebek, domba, badak. Siswa mampu membedakan huruf m dengan n, dan b dengan d.
3. Siswa di minta untuk menunjukkan huruf m dengan n, dan b dengan d:dengan instruksi sebagai berikut ”manakah huruf m dengan n?manakah huruf b dengan d?”.(Fase 4) 3. siswa menunjukkan kepada guru huruf m , n , b, dengan d.
4. Guru mengecek apakah siswa sudah memahami huruf m, n , b dan d serta mengajukan pertanyaan lisan tentang huruf yang ada pada gambar dengan pertanyaan sebagai berikut “bagaimana bentuk huruf m dengan N?,bagaimana bentuk huruf b dengan d? Apa bedanya? ”,.(Fase 5) 4.siswa membedakan huruf m dengan n, dan b dengan d. Siswa menjelaskan bentuk huruf m, n, b, d.
5. Siswa diberi intruksi untuk membuat kata dengan menggukan huruf m, n ,m dan n, b, d, b dan d,”ayo anak-anak, hari ini kita sudah belajar tentang huruf m,n,b dan d.sekarang coba buat kata dengan menggunakan huruf m,n,m dan n,b,d, b dan d! Coba tunjukkan pada ibu dengan membacanya”..(Fase 5) 5. siswa membuat kata dengan menggunakan huruf m, n, m dan n, b, d, b dan d. Kemudian siswa membacanya ulang.

3. Penutup
Kegiatan guru Kegiatan siswa
Guru memberikan reward pada siswa yang dapat membedakan huruf b,d,m,n dan dapat membuat kata menggunakan huruf b,d,m,n yang berupa penyematan bintang. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pengamatan huruf m,n,b,d. ” huruf b, perutnya dibelakang,sedangkan d perutny didepan. Dan huruf m kakinya 2, sedangkan n kakinya satu”.(Fase 4) Siswa menjelaskan ulang tentang huruf b,d, m, n. siswa menerima bintang penghargaan ketika anak mampu membedakan huruf b, d, m, n dan membuat kata menggunakan huruf b, d, m, n.
VIII. PENILAIAN
1. Tertulis
2. Hasil kerja






Soal evaluasi
I. Pilihlah jawaban yang benar dibawah ini dengan tanda silang (X)!
1. Manakah kata dibawah ini yang terdapat huruf m ?
a. Natal c. malu
b. Bantal
2. Manakah kata dibawah ini yang terdapat huruf n?
a. Marah
b. Antar
c. Makam
3. Manakah kata dibawah ini yang terdapat huruf b?
a. Dadu
b. dari
c. bayi
4. manakah kata dibawah ini yang terdapat huruf d?
a. Pandang
b. batin
c. baju
II. isilah pertanyaan berikut dengan benar
1. buatlah kata dengan menggunakan huruf b dan dengan mengunakan huruf d?
2. Buatlah kata dengan menggunkan huruf m dan dengan menggunakan huruf n?
3. Buatlah kata dengan menggunakan kombinasi huruf m dan n?
4. Buatlah kata dengan menggunakan kombinasi huruf b dan d?
Kunci jawaban

I. 1.c
2.b
3.c
4.a
II. 1. Baru, bagus, Datang, daya, dll
2. maya, marah, nangka, natal,dll
3. benda, badu, dll
4. mandi, manja, dll

Skor : I . Benar X 5 = 20
II. Benar X 20 = 80 +
Total skor 100
IEP